Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Eko Cahyono, Penggagas Perpustakaan Anak Bangsa.

Banyak baca banyak tahu, sedikit baca sedikit tahu, tidak baca tidak tahu.
Kutipan di atas saya ambil dari pernyataan seorang dosen hukum di kampus, Iskandar Ladamay, yang diucapkannya ketika saya baru terdaftar masuk sebagai mahasiswa. Dalam beberapa kesempatan pernyataan itu diulang untuk mengingatkan para mahasiswa betapa penting dan besarnya manfaat dari membaca.
Foto : Merdeka.com
Kita bisa mengambil seorang tokoh terkemuka seperti Almarhum Gus Dur sebagai contoh utama. Mantan presiden RI ke empat asal Jombang itu, sejak masih SMP sudah membaca buku karya-karya besar pemikir dunia seperti Karl Marx dan Plato. Tidak heran jika kemudian pemikirannya yang mengandung semangat toleransi tinggi malah dianggap kontroversial di mata kebanyakan awam yang malas membaca.

Dahsyatnya dampak membaca dalam menciptakan perubahan sosial di masyarakat, juga saya temukan pada sosok lain. Pada bulan September 2013, waktu melaksanakan Kuliah Kerja Nyata bersama lima belas teman lainnya, secara langsung saya bertemu seorang pria bernama Eko Cahyono. Pria luar biasa tamatan SMA ini adalah penggagas Perpustakaan Anak Bangsa, yang terletak di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, sekitar 45 km dari pusat kota Malang atau kira-kira satu jam perjalanan dari sana.

Terhitung sejak mulai berdiri tahun 1998, perpustakaan ini sudah berumur 18 tahun. Pada awalnya koleksi perpustakaan hanya berupa kumpulan koran dan majalah bekas yang dibeli dua ratus rupiah setiap kilonya.

Pada suatu kesempatan, pria berambut panjang itu, secara terbuka membagikan kisahnya. Semua berawal ketika krisis moneter menimpa Indonesia tahun 1998. Akibatnya, Mas Eko, sapaan akbrabnya, terkena PHK.  Praktis setelah itu beliau jadi pengangguran dan menghabiskan sebagian waktu luangnya dengan membaca.

Tingginya buta huruf karena dipicu kurangnya kesadaran masyarakat setempat terhadap pendidikan, menjadi dasar kepeduliannya untuk tergerak menularkan kebiasaannya membaca. 

"Dulu, masyarakat di sini beranggapan bahwa melanjutkan studi ke perguruan tinggi hanya menghabiskan uang, mas." Keluhnya dalam sebuah obrolan.

Seiring dengan digagasnya perpustakaan dan meningkatnya minat baca, stereotip terhadap pendidikan pun lambat laun mulai berubah. Masyarakat mulai menyadari akan pentingnya mengenyam pendidikan. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang sudah lulus SMA meneruskan studinya ke perguruan tinggi untuk melanjutkan cita-citanya.

Dua orang di atas dalam kapasitasnya yang berbeda, hanya segelintir dari sekian banyak tokoh-tokoh besar yang bisa dijadikan contoh sebagai ukuran utama kesuksesan karena kegigihannya membaca. Jika Gus Dur perannya lebih besar sebagai kepala negara. Maka, Seorang Eko Cahyono juga tak bisa dikesampingkan dalam perannya melestarikan semangat membaca dengan menggagas perpustakan demi perubahan desanya.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan pribadi. 

Tidak semua orang beruntung dapat mengenyam pendidikan secara formal. Tapi, setiap orang punya hak yang sama untuk membaca.

Malang, 2016
Ahmad M.
Ahmad M. Ahmad Mahfud, lahir dalam dekapan panas matahari Madura sejak 1990.

2 comments for "Eko Cahyono, Penggagas Perpustakaan Anak Bangsa. "

  1. Mantap, Mas. Memang benar bahwa tidak semua orang berkesempatan untuk mengenyam pendidikan formal, tapi setiap orang wajib dan berhak belajar (salah satunya melalui kegiatan membaca) hingga nafas terakhirnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas. Perintah alquran pun ketika pertama kali turun adalah "membaca"

      Delete

Berlangganan via Email