Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Koloman, Tradisi Silaturrahmi di Kampungku.

Minggu, 24 Mei 2020, jam 6 pagi, suasana di kampungku semarak dan meriah. Pelantang di Musholla dan Masjid kembali menjerit-jerit, melantunkan takbir kemenangan, pertanda Ramadan sudah tutup buku. Orang-orang kampung, anak-anak, tua dan muda, laki-laki dan perempuan berdandan dan berpakaian rapi. Pagi-pagi sekali mereka sudah mandi. Dipakainya baju baru, harum dan wangi, sandal juga baru, segalanya serba baru.
   
Koloman, Tradisi Koloman di Kampungku
Foto : Koleksi Pridi

Sebentar lagi, mereka akan berangkat dari rumah masing-masing menuju ke Musholla atau Masjid terdekat untuk menunaikan shalat Idul Fitri. Selesai melaksanakan Shalat Ied, acara dilanjutkan dengan acara ramah-tamah, menyalami setiap orang untuk saling memaafkan.  

Namun, berbeda dengan kebiasaan di kampung lain, ada kebiasaan unik di kampungku yang masih dilestarikan sampai saat ini, yang dilakukan setiap habis Sholat Ied, yaitu tradisi koloman. Koloman ini sebenarnya istilah lain dari silaturrahmi, tapi hanya berlangsung sehari, dan umumnya dilakukan dalam bentuk berkelompok.

Secara garis besar kelompok koloman tersebut bisa dibagi menjadi tiga kategori. Kelompok pertama, yang paling muda, diisi oleh anak-anak kecil yang masih duduk di bangku SD. Kelompok kedua, terdiri dari para remaja yang rata-rata sudah MTs (Madrasah Tsanawiyah, setingkat SMP) atau MA (Madrasah Aliyah, Setingkat SMA). Dan, kelompok ketiga, diinisiasi oleh para orang-orang tua. 

Koloman, Tradisi Koloman di Kampungku
Foto : Koleksi Pribadi

Jumlah masing-masing kelompok koloman tentu sangat variatif. Satu kelompok bisa terdiri dari lima, sepuluh atau bahkan bisa belasan orang. Seperti kelompok koloman saya hari itu, yang terdiri dari empat belas orang. Itu artinya, saya harus mengunjungi rumah keempat belas orang tersebut secara bergantian, dan makan sebanyak itu pula. 

Disamping sebagai agenda silaturrahmi, koloman ini sejatinya punya tujuan sebagai tempat berkumpul, dan berbagi pengalaman selama di kampung, setelah sepanjang tahun mereka hidup di perantauan dan tidak saling bertemu sesama teman. 

Semoga tradisi koloman ini tetap lestari. 

Ahmad M.
Ahmad M. Ahmad Mahfud, lahir dalam dekapan panas matahari Madura sejak 1990.

2 comments for "Koloman, Tradisi Silaturrahmi di Kampungku."

  1. Moga terus lestari dan terjaga. Ini hal baik yang mesti diteruskan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin bro. Semoga.....!!!
      Terima kasih sudah pelesir di mari....

      Delete

Berlangganan via Email