Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Surat-surat dari Masa Lalu

Surat-surat dari masa lalu
Ilustrasi : mahfud

Tapi benarkah masa lalu bisa dibakar? Hanya Tuhan dan lelaki itu yang tahu. 

Lelaki itu tersenyum. Dia mengeluarkan sekumpulan surat dari sebuah kotak persegi panjang yang sudah lusuh dan berdebu. Kurang lebih, sudah satu dasawarsa surat-surat itu mendekam di dalam kotaknya. Ditatapnya surat-surat itu satu persatu. Semuanya ada lima buah. Terlipat dengan rapi dan presisi. Kertasnya sudah kusam dan berubah warna menjadi kekuningan, namun untaian kalimat yang dirangkai dengan tangan oleh penulisnya masih terbaca jelas. Tentu itu bukan sembarang surat. Ada perasaan, emosi dan ketulusan yang larut dari orang yang menulisnya. 

Sepanjang ingatannya, ada dua orang perempuan yang menyerahkan surat kepada lelaki itu. Salah satu surat di antaranya ditulis oleh sahabatnya, yang mengirimkan ucapan selamat, tepat di hari  ulang tahunnya. Sementara empat surat lainnya dikirim oleh seseorang – dan barangkali dia yang paling istimewa – dialah A.

Namanya A, tertulis di sudut kanan bawah, dengan tanda tangan, tanggal, bulan serta tahun surat itu ditulis. 02 Agustus 2008. Seperti membuka sebuah kotak Pandora, kenangan yang sudah sepuluh tahun lebih terkubur, akhirnya meruap. Ingatannya diseret ke masa 12 tahun silam. Masa-masa di mana segalanya masih manis penuh madu. Di mana dunia hanya milik berdua. Dengan pongah cinta meninabobokkan keduanya. Lewat surat menyurat itu, puluhan puisi ditulis. Kata-kata penuh romansa dan suka cita tumbuh dan bermekaran. Sampai mereka lupa bahwa setiap yang tumbuh akan runtuh. Bahwa setiap yang mekar akan buyar. Bahwa setiap yang bertemu akan berpisah.

Dan akhirnya, 2010, semuanya khatam. Perpisahan meminta kesediaan mereka itu untuk saling mengikhlaskan dan merelakan. Barangkali Malaikat dan Tuhan memang tak merestui cinta yang lahir dari Rahim pesantren. 

Surat-surat dari masa lalu

Cukup, desah lelaki itu. Ia tak mau terlalu larut dengan masa lalu. Tanpa pikir panjang diambilnya korek dari saku celananya. Dan dibakarlah surat-surat dari masa lalu itu. 

Tapi benarkah masa lalu bisa dibakar? Hanya Tuhan dan lelaki itu yang tahu. 


Pamekasan, 29 September 2020.


Ahmad M.
Ahmad M. Ahmad Mahfud, lahir dalam dekapan panas matahari Madura sejak 1990.

Post a comment for "Surat-surat dari Masa Lalu"

Berlangganan via Email