Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENULIS

ilustrasi : Mahfud 

Menulis membutuhkan ikhtiar yang intens, mulai dari melawan kemalasan diri, menjaga mood yang timbul tenggelam, dan juga proses berfikir keras dengan melibatkan perasaan untuk selalu mau peka terhadap lingkungan

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian” begitulah kalimat dahsyat yang saya ingat dan menjadi kutipan dalam cerpen seorang teman. Belakangan saya menjadi tahu bahwa kutipan tersebut diambil teman saya dari seorang penulis terkemuka, yaitu Pramoedya Ananta Toer, dari salah sebuah novelnya, Tetralogi Bumi Manusia. Dengan kalimat yang berbeda kita juga bisa menangkap harapan yang kurang lebih sama dengan pernyataan Pram di atas. Chairil Anwar dalam sebuah puisinya menulis semangatnya secara implisit “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. 

Keabadian yang dicita-citakan Pram – panggilan beken Pramoedya Ananta Toer – tentu bukan keabadiaan yang sifatnya material, badaniah atau bebas dari cengkraman kematian. Begitu pun juga Chairil Anwar, Kata Seribu tahun lagi jika dikaitkan dengan usia relatif manusia tentu sesuatu yang ubsurd dan utopia. Pram yang novelis dan Chairil yang puitis dengan puisi-puisinya, keduanya dikenang karena kegigihannya dalam menulis dan keagungan karya-karyanya. Jika yang pertama saya baru kenal ketika menginjak bangku kuliah, yang kedua saya sudah kenal sejak masih di bangku MTs atau SMP. Di dalam pelajaran buku sekolah puisinya dibacakan bahkan sampai hari ini.   

Dalam sebuah obrolan santai, Sulaiman sapaan akrabnya, membujuk saya untuk menulis. Diam-diam atau secara tak sengaja dia, katanya, melihat percakapan saya dengan seorang teman di Facebook. Menarik, gila bahasamu, bung, begitulah pujiannya. Tidak cukup di situ, rayuannya berlanjut dengan menyebutkan beberapa nominal uang yang bisa saya terima jika tulisan saya dimuat. Dia menyebut beberapa Koran seperti Kompas, Jawa Pos, Tempo dan lain semacamnya. Lumayan, kata saya pada diri sendiri. Tapi, seperti yang kita pahami bersama, untuk tembus dan meloloskan sebuah tulisan untuk dimuat ada syarat dan jalan berliku yang harus ditempuh. 

Setelah obrolan itu saya mencoba sekuat tenaga untuk menulis karena saya tergiur dengan insentif yang dijanjikan oleh beberapa Koran nasional. Dan akhirnya karya pertama itu lahir. Sebuah cerpen. Tapi entahlah, apakah itu patut disebut sebagai tulisan atau karya yang bernilai. Karya yang dimuat di salah satu Koran lokal Malang itu lebih mirip sebagai curhatan. Beberapa teman memberi masukan bahwa tulisan itu memang miskin makna, tidak ada pesan luhur yang bisa disampaikan di dalamnya untuk dijadikan pegangan oleh pembaca. Lepas dari penilaian dan kritik yang mengatakan bahwa tulisan saya nirmakna, saya tak menafikan ada setitik rasa bangga yang terbetik di dalam diri saya ketika sukses menyelesaikan sebuah tulisan. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh seorang pengamat dalam sebuah artikel di Jawa Pos bahwa menulis bisa menjadi salah satu terapi psikologi untuk melepaskan perasaan-perasaan kita terhadap apa yang lampau – kenangan – atau pun terhadap masa depan – harapan. Dengan menulis setidaknya kita ingin berbagi pada siapa pun yang memposisikan diri sebagai pembaca. 

Bagi saya pribadi menulis ibarat perjalanan panjang di kedalaman hutan. Menulis tidak hanya melulu mematerialkan proses imajinatif dari fikiran dan perasaan ke dalam huruf-huruf alfabet, merangkainya dalam susunan kalimat dan kata-kata sehingga secara utuh bisa bermakna dan mudah dicerna oleh pembaca. Menulis membutuhkan ikhtiar yang intens, mulai dari melawan kemalasan diri, menjaga mood yang timbul tenggelam, dan juga proses berfikir keras dengan melibatkan perasaan untuk selalu mau peka terhadap lingkungan. Ada yang bilang bahwa penulis adalah seorang Nabi yang diutus di tengah masyarakat untuk mewakili mereka yang tertindas. Saya sepenuhnya setuju. Setidaknya dengan menulis kita ingin menyuarakan hati. Dan semua orang tidak harus mengalaminya sendiri, mereka hanya perlu membaca. Dan seorang penulis hanya harus tetap menulis. Entah karyanya dibaca atau tidak, ungkap mendiang Alm. Pram. 


Malang, 27 Nopember.

Mahfud
Mahfud Bookish, Anime Lover, Blogger Beginer.

Post a comment for "MENULIS"